Semua yang Harus Anda Ketahui Tentang Sosiologi Komunikasi

 

PERUBAHAN SOSIAL (SOSIAL CHANGE)

Oleh: Arofa Elvasana Hanifa

 

Perubahan sosial dapat meliputi segala segi kehidupan masyarakat, yaitu perubahan dalam cara berfikir dan interaksi sesama masyarakat menjadi lebih rasional, perubahan dalam sikap dan orientasi kehidupan ekonomi menjadi semakin komersial, perubahan tata cara kerja sehari-hari yang semakin ditandai dengan pembagian kerja pada spesialisasi kegiatan yang makin tajam, perubahan dalam kelembagaan dan kepemimpinanan yang semaik demokratis, perubahan dalam tata cara dan alat-alat kegiatan yang makin modern dan efisien, dan lain sebagainya.

Konsep perubahan sosial sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari perubahan kebudayaan. Masyarakat adalah kumpulan manusia yang terikat oleh kebudayaan, sedangkan kebudayaan adalah kesatuan dari cara merasa, berfikir, dan bertindak (pola cita, pola rasa, dan pola karsa) dari masyarakat yang bersangkutan. Pola cita, pola rasa dan pola karsa dari masyarakat yang dikenal dengan konsep kebudayaan tersebut, sifatnya berkembang sejalan dengan perkembangan faktor-faktor disekelilingnya. Dengan demikian terjadilah perubahan kebudayaan secara terus menerus. Perubanahn dalam kebudayaan ini wujudnya adalah perubahan dalam berbagai aspek-aspek kehidupan, yaitu aspek kehidupan material, norma, dan kaidah-kaidah bermasyarakat, serta sistem nilai.[1]

Para ahli sosiologi memberikan beberapa pengertian tentang apa itu perubahan sosial:[2]

1.   Menurut Prof. Selo Soemardjan, perubahan sosial adlah perubahan-perubahan yang terjadi pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang dipengaruhi sistem sosialnya, termasuk di dalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilakuannya di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.

2.   Menurut Max Iver, perubahan sosial berarti perubahan dalam hubungan sosial atau sebagai perubahan terhadap keseimbangan hubungan sosial (dalam buku A Text Book Fo Sociology)

3.   Menurut kingsley Davis, perubahan sosial sebagai perubahan-perubahan yang terjadi dalam struktur dan fungsi masyarakat. Misalnya, mencakup organisai-organisasi buruh dalam masyarakat kapitalis modern, menyebabkan perubahan dalam hubungan antara buruh dan majikan, yang selanjutnya menyebabkan perubahan-perubahan dalam organisasi ekonomi dan politik.

4.   Menurut Gillin, perubahan sosial merupakan modifikasi-modifikasi atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalm pola-pola kehidupan manusia. Modifikasi tersebut terjadi adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam lingkungan masyarakat itu sendiri (intern) maupun sebab-sebab yang berasal dari luar (ekstern).

5.   Menurut Soekanto (1990) Perubahn sosial adalah segala perubahan yang terjadi dalm lembaga kemasyarkatan dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya. Tekanan pada lembaga masyarakat sebagai himpunan kelompok manusia dimana perubahan mempengaruhi struktur masyarakat lainnya.

Dari beberapa pendapat para ahli tersebut dapat disimpulakan tentang perubahan sosial yaitu suatu proses perubahan, modifikasi, atau penyesuaian-penyesuaian yang terjadi dalam pola hidup masyarakat, yang mencakup nilai-nilai budaya, pola perilaku kelompok masyarakat, hubungan-hubungan sosial ekonimi, serta kelembagaan dan kemsayrakatan.

 

Pendekatan Teori-Teori Klasik Terhadap Perubahan Sosial

Beberapa teori perubahan sosial dikemukakan dalam pandangan sosiolgi klasik terhadap perubahan sosial diantaranya:[3]

1.      August Comte

Manyatakan bahwa perubahan sosial berlangsung secara evolusi melalui suatu tahapan-tahapan perubahan dalam alam pemikiran manusia, yang oleh Comte disebut dengan Evolusi Intelektual, tahapan-tahapan pemikiran tersebut mencakup tiga tahap, dimulai dari tahap Theologis Primitif, tahap Metafisik Transisional, dan terakhir tahap Positif Rasional. Setiap perubahan tahap pemikiran manusia tersebut mempengaruhi unsur kehidupan masyarakat lainnya, dan secara keseluruhan juga mendorang perubahan sosial.

2.      Karl Marx

Pada dasrnya perubahn sosial sebagai akibat dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam tata perrekonomian masyarakat, terutama sebagai akibat dari pertentangan yang terus teradi antara kelompok pemilik modal atau alat-alat produksi dengan kelompok pekerja.

3.      Emile Durkhein

Perubahan sosial terjadi sebagai hasil dari faktor-faktor ekologis dan demografis, yang mengubah kehidupan mesyarakat dari kondisi tradisional yang diikat solidaritas mekanistik, ke dalam kondisi masyarkat modern yang diikat oleh solidaritas organic.

4.      Max Weber

perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat adalah akibat dari pergeseran nilai yang dijadikan orientasi kehidupan masyarakat. Dalam hal ini dicontohkan masyarakat Eropa yang sekian lama terbelenggu oleh nilai Katolikisme Ortodox, kemudian berkembang pesat kehidupan sosial ekonominya atas dorongan dari nilai Protestanisme yang dirasakan lebih rasional dan lebih sesuai dengan tuntutan kehidupan modern

Pendekatan Teori-teori Modern Terhadap Perubahan Sosial

1.      Teori Evolusi (Evolution Theory)

Teori ini pada dasarnya berpijak pada perubahan yang memerlukan proses yang cukup panjang

Macam-macam teori tentang evolusi yaitu:

a.       Unilinear Teories of Evolution

Teori ini berpendapat bahwa manusia dan masyarakat termasuk kebudayaannya akan mengalami perkembangan sesuai dengan tahpan-tahapan tertentu dari bentuk yang sederhana ke bentuk yang kompleks dan akhirnya sempurna. Pelopor teori ini anta lain Auguste Comte dan Herbert Spencer.

b.      Universal Theories of Evolution

Teori ini menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak perlu melalui tahap-tahap tertentu yang tetap. Kebudayaan manusia telah mengikuti suatu evolusi tertentu. Menurut Herbert Spencer, prinsip teori ini adalah masyarakat merupakan hasil perkembangan dari kelompok homogen menjadi koleompok yang heterogen.

c.       Multilined Theories of Evolution

Teori ini menekankan pada penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat. Misalnya mengadakan penelitian tentang perubahan sistem mata pemcaharian dari sistem berburu ke sistem pertanian menetap dengan menggunakan pemupukan dan pengairan.

2.      Teori konflik (Conflict Theory)

Teori ini memiliki prinsip bahwa konflik sosial dan perubahan sosial selalu melekat pada struktur masyarakat. Teori ini menilai bahwa suatu konstan atau tetap adalah konflik sosial, bukan perubahan sosial. Pandangan teori konflik lebih menitikberatkan pada hal berikut:

a.       Setap masyaraka terus-menerus berubah

b.      Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang perubahn masyarakat

c.       Setiap masyarakat biasanya berada dalam ketegangan dan konflik

d.      Kestabilan sosial akan tergantung pada tekanan terhadap golongan yang satu oleh golongan yang lain

3.      Teori Fungsional (Functionalist Theory)

Perubahan sosial tidak lepas dari hubungan antara unsur-unsur kebudayaan dalam masyarakat. Apabila perubahan ‘itu’ ternyata bermanfaat, maka perubahan itu bersifat fungsional dan akhirnya diterima oleh masyarakat, tetapi apabila terbukti disfungsional atau tidak bermanfaat, perubahan akan ditolak. Pandangan teori fungsioanal sebagai berikut:

a.       Setiap masyarakat relatif bersifat stabil

b.      Setiap komponen masyarakat biasanya menunjang kestabilan masyarakat

c.       Setiap masyarakat biasanya relatif terintegrasi

d.      Kaestabilan sosial sangat tergantung pada kesepakatan bersama (consensus) di kalangan anggota kelompo masyarakat

4.      Teori Siklis (Cyclical Theory)

Menurut teori ini kebangkitan dan kemunduran suatu kebudayaan atau kehidupan sosial merupakan hal yang wajar dan tidak dapat dihindarin. Beberapa bentuk teori siklis:

a.       Teori Oswald Spengler (1880-1936)

Menurut teori ini, pertumbuhan manusia mengalami empat tahapan, yaitu anak-anak, remaja, dewasa, dan tua. Pentahapan tersebut oleh Spengler digunakan untuk menjelaskan perkembangan masyarakat, bahwa setiap peradaban besar mengalami proses kelahiran, pertumbuhan, dan keruntuhan. Proses siklus ini memakan waktu sekitar seribu tahun.

b.      Teori Pitirim A. Sorokin (1889-1968)

Semua peradaban besar berada dalm siklus tiga sitem kebudayaan yang berputar tanpa akhir

·      Kebudayaan ideasional, yaitu kebudayaan yang didasari oleh nilai-nilai dan kepercayaan terhadap kekuatan supranatural

·      Kebudayaan idealistis, yaitu kebudayaan di mana kepercayaan terhadap unsur adikodrati (supranatural) dan rasionalitas yang berdasarkan fakta bergabung dalam menciptakan masyarakat ideal

·      Kebudayaan sensasi, yaitu kebudayaan dimana sensasi merupakan tolok ukur dari kenyatan dan yujuan hidup

c.       Teori Arnold Tonybee (1889-1975)

Toynbee menilai bahwa peradaban besar berada dalm siklus kelahiran, pertumbuhan, keruntuhan, dan akhirnya kematian. Beberapa peradaban besar menurut Toynbee telah mengalami kepunahan kecuali peradaban barat, yang dewasa ini beralih menuju ke tahap kepunahan

 

Faktor-faktor dalam perubahan sosial:[4]

1.      Faktor Penyebab

Perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat terjadi karena masyarakat tersebut menginginkan perubahan. Perubahan juga dapat terjadi karena adanya dorongan dari luar sehingga masyarakat secara sadar ataupun tidak akan mengikuti perubahan. Perubahan berasal dari dua sumber yaitu faktor acak dan faktor sistematis. Faktor acak meliputi iklim, cuaca, atau karena adanya kelompok-kelompok tertentu. Faktor sistematis adalah faktor perubahan sosial yang disengaja dibuat. Keberhasilan faktor sistematis ditentukan oleh pemerintahan yang stabil dan fleksibel, sumber daya yang cukup, dan organisasi sosial yang beragam. Jadi, perubahan sosial biasanya merupakan kombinasi dari faktor sistematis dengan beberapa faktor acak. Menurut Soerjono Soekanto, adanya faktor-faktor intern (dari dalam masyarakat) dan ekstern (dari luar masyarakat) yang menyebabkan terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat. Faktor intern meliputi perubahan penduduk, penemuanpenemuan baru, konflik dalam masyarakat, dan pemberontakan (revolusi) dalam tubuh masyarakat. Sedangkan faktor ekstern meliputi faktor alam yang ada di sekitar masyarakat berubah, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.

2.      Faktor Pendorong

Faktor pendorong perubahan sosial adalah faktor yang mempercepat perubahan sosial. Faktor tersebut meliputi kontak dengan masyarakat lain, difusi (penyebaran unsur-unsur kebudayaan) dalam masyarakat, difusi antar masyarakat, sistem pendidikan yang maju, sikap ingin maju, toleransi, sistem stratifikasi (lapisan) sosial terbuka, penduduk yang heterogen (bermacam-macam), ketidakpuasan terhadap kondisi kehidupan, orientasi ke masa depan, nilai yang menyatakan bahwa manusia harus berusaha memperbaiki nasibnya, disorganisasi (pertikaian) dalam keluarga, dan sikap mudah menerima hal-hal baru.

3.      Fakator Penghambat

Perubahan sosial tidak akan selalu berjalan mulus. Perubahan sosial seringkali dihambat oleh beberapa faktor penghambat perubahan sosial. Faktor tersebut meliputi kurangnya hubungan dengan masyarakat yang lain, perkembangan ilmu pengetahuan yang terhambat, sikap masyarakat yang tradisional, adat atau kebiasaan, kepentingan-kepentingan yang tertanam kuat sekali, rasa takut akan terjadinya disintegrasi (meninggalkan tradisi), sikap yang tertutup, hambatan yang bersifat ideologis, dan hakikat hidup.

 

Kaitan perubahan sosisla dengan ilmu komunikasi[5]

Dalam hubungannya dengan proses sosial, komunikasi menjadi sebuah cara dalam melakukan perubahan sosial (social change). Komunikasi berperan menjembatani perbedaan dalam masyarakat karena mampu merekatkan kembali sistem sosial masyarakat dalam usahnya melakukan perubahan. Namun komunikasi juga tak lepas dari konteks sosialnya, artinya tetap diwarnai oleh sikap, perilaku, pola, norma, pranata masyarakat. Jadi keduanya saling mempengaruhi dan saling melengkapi, seperti halnya hubungan antara manusia dengan masyarakat. Dalam memahamikehidupan sosial sebagai proses interaksi, komunikasi (interaksi) merupakan sarana belajar berperilaku, komunikasi merupakan perekat masyarakat. Masyarakat tidak aka nada tanpa komunikasi, struktur sosial diciptakan dan ditopang melalui komunikasi, bahasa yang dipakai dalam komunikasi adalah untuk menciptakan struktur sosial.

‘Hubungan antara perubahan sosial dengan komunikasi pernah diamati Goran Hedebro (dalam Nurudin 2004), di jelaskan bahwa teori komunikasi mengandung makna pertukaran pesan. Tidak ada perubahan dalam masyarakat tanpa peran komunikasi, dengan demikian bisa dikatakan bahwa komunikasi hadir pada semua upaya bertujuan membawa ke arah perubahan.



Daftar Pustaka

Baharuddin, Baharuddin, ‘BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN’, Al-Hikmah, 9.2 (2015) <https://doi.org/10.24260/al-hikmah.v9i2.323>

Cahyono, Anang Sugeng, ‘PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA’, 18

Goa, Lorentius, ‘PERUBAHAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT’, 15

Kasnawi, Dr M Tahir, and Dr Sulaiman Asang, ‘Konsep dan Pendekatan Perubahan Sosial’, 46

‘KONSEP PERUBAHAN SOSIAL’, 19

 



[1] ‘KONSEP PERUBAHAN SOSIAL’, 19.

[2] Dr M Tahir Kasnawi and Dr Sulaiman Asang, ‘Konsep dan Pendekatan Perubahan Sosial’, 46.

[3] Baharuddin Baharuddin, ‘BENTUK-BENTUK PERUBAHAN SOSIAL DAN KEBUDAYAAN’, Al-Hikmah, 9.2 (2015) <https://doi.org/10.24260/al-hikmah.v9i2.323>.

[4] Anang Sugeng Cahyono, ‘PENGARUH MEDIA SOSIAL TERHADAP PERUBAHAN SOSIAL MASYARAKAT DI INDONESIA’, 18.

[5] Lorentius Goa, ‘PERUBAHAN SOSIAL DALAM KEHIDUPAN BERMASYARAKAT’, 15.

Komentar